I. Definisi Sahabat
Sahabat adalah orang yang bertemu Rasulullah, beriman kepadanya dan
wafat di atas iman, dia dinamakan shahib karena jika dia bertemu
Rasulullah dalam keadaan beriman kepadanya maka dia telah berikrar
mengikutinya. Ini salah satu keistimewaan persahabatan dengan
Rasulullah. Adapun selain Rasulullah maka seseorang belum dianggap
sahabat sebelum dia sebelum dia bergaul dengannya dalam waktu yang
panjang yang karenanya dia berhak disebut sahabat.
Secara bahasa,
kata ash-shahabah (الصحابة) adalah bentuk plural (jamak) dari kata
shahib (صاحب) atau shahabiy (صحابي) yang berarti teman sejawat.
II. Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Terhadap Sahabat
Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah keselamatan hati
mereka dan lidah mereka terhadap sahabat Rasulullah. Keselamatan hati
dari kebencian, kemarahan dan iri hati dan keselamatan lidah mereka dari
segala ucapan yang tidak layak dengan kedudukan mereka.
Hati
Ahlus Sunnah wal Jamaah bersih dari semua itu, ia penuh dengan
kecintaan, penghormatan, penghargaan kepada sahabat Nabi sesuai dengan
kedudukan mereka. Ahlus Sunnah mencintai sahabat Nabi dan
mengunggulkannya di atas seluruh manusia karena mencintai mereka
termasuk mencintai Rasulullah dan mencintai Rasulullah termasuk
mencintai Allah.
Lidah mereka bersih dari hinaan, celaan, laknat,
pemberian gelar fasik, kafir dan lain-lain yang dilontarkan oleh ahli
bid’ah , mereka adalah Udul ( Udul jama’ dari Adil . ( Menurut bahasa
Adl yaitu : “Adalah” atau ‘Adl lawan dari Jaur yang artinya kejahatan.
Rojulun ‘Adlmaksudnya : Seseorang dikatakan adil yakni seseorang itu
diridhai dan diberi kesaksiannya.(Lihat Kamus Muktarus- Shihah hal. 417
cet. Darul Fikr). Menurut Istilah ahli : Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata :
“Yang dimaksud dengan adil ialah orang yang mempunyai sifat ketaqwaan
dan muru’ah”. ( Nuzhatun Nazhar Syarah Nukhbatul-Fikar hal. 29 cet.
Maktabat Thayibah tahun 1404H).
Jika hati mereka bersih dari
semua itu berarti mereka sarat dengan pujian, doa ridha dan rahmat
kepada mereka serta istighfar dan lain-lain.
Hal itu karena perkara-perkara berikut:
Pertama : Mereka adalah generasi terbaik di seluruh umat sebagaimana
secara jelas dinyatakan oleh Rasulullah, “Sebaik-baik manusia adalah
abadku kemudian orang-orang sesudah mereka kemudian orangorang sesudah
mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kedua : Mereka adalah perantara antara Rasulullah dengan umat, dari merekalah umat menerima syariat.
Ketiga : Jasa penaklukan yang besar lagi luas melalui tangan mereka.
Dengan wasilah mereka lah negeri-negeri dapat merasakan hidayah iman dan
islam.
Keempat : Mereka menebarkan kemuliaan di kalangan umat,
Kejujuran, nasihat, akhlak dan adab yang tidak ada di selainnya. Hal ini
tidak diketahui oleh orang yang membaca tentang mereka dari balik
tembok, bahkan hal ini tidak diketahui kecuali oleh orang yang hidup
dalam sejarah mereka dan mengenal keutamaan-keutamaan, jasa-jasa,
pengorbanan-pengorbanan dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.
III. Di antara Dalil-dalil yang Menetapkan Keutamaan Sahabat
Firman Allah Taala, “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir
dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari
karunia dari Allah dan keridhaanNya dan mereka menolong Allah dan
RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al- Hasyr: 8). Ayat
ini tentang orang-orang Muhajirin.
Firman Allah Taala, “Dan
orangorang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar)
sebelum ( kedatangan ) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’
orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar)
tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang
diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan
(orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka
memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Al-Hasyr: 9). Ayat ini
tentang orang-orang Anshar.
Nabi saw bersabda, “Jangan mencela
sahabatku, demi dzat yang jiwaku berada di tanganmNya, seandainya salah
seorang dari kalian menginfakkan emas seperti gunung Uhud maka ia tetap
tidak menandingi satu mud bahkan setengahnya yang diinfakkan oleh salah
seorang dari mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah
berbicara kepada Khalid bin al-Walid ketika terjadi peselisihan antara
dirinya dengan Abdur Rahman bin Auf tentang Bani Judzaimah, maka Nabi
bersabda kepada Khalid, “Jangan mencela sahabatku.” Dan yang harus
diperhatikan adalah keumuman lafazh.
Tanpa ragu Abdur Rahman bin
Auf dan orang-orang yang seangkatan dengannya lebih afdhal daripada
Khalid bin al-Walid dari segi masuk Islam yang lebih dahulu daripada dia
oleh karena itu Nabi bersabda, “Jangan mencela sahabatku.” Sabdanya ini
tertuju kepada Khalid dan orang-orang sepertinya.
Apabila ada
seseorang berinfak emas seperti Uhud, maka nilainya tidak menandingi
satu mud atau setengahnya yang diinfakkan oleh sahabat, padahal infaknya
sama, pemberinya sama dan yang diberi sama, sama-sama manusia akan
tetapi manusia tidaklah sama, para sahabat itu memiliki keutamaan,
kelebihan, keikhlasan dan ketaatan yang tidak dimiliki oleh selain
mereka, keikhlasan mereka besar, ketaatan mereka kuat, maka mereka
mengungguli siapa pun dari selain mereka dalam perkara infak.
Larangan dalam hadits di atas menunjukkan pengharaman. Tidak halal bagi
siapa pun mencela sahabat secara umum tidak pula mencela satu dari
mereka secara khusus. Jika ada yang mencela mereka secara umum maka dia
kafir bahkan tidak ada keraguan pada kekufuran orang yang meragukan
kekufurannya. Jika ada yang mencela secara khusus maka pendorongnya
diteliti terlebih dahulu karena bisa jadi dia mencela karena alasan
bentuk tubuh atau prilaku akhlak atau agama, masing-masing memiliki
hukumnya.
Imam Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata:
وَخَيْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّها –عَلَيْهِ السَّلاَمُ –
أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطّابِ ثُمَّ عُثْمانُ
بْنُ عَفّانَ ثُمَّ عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طالِبٍ –رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ-,
وَهُمُ الْخُلَفاءُ الرّاشِدُوْنَ الْمَهْدِيُّوْنَ.
وَالتَّرَحُّمُ
عَلَى جَمِيْعِ أَصْحابِ مُحَمَّدٍ –صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –
وَعَلَى آلِهِ, وَالْكَفُّ عَمّا شَجَرَ بَيْنَهُمْ.
[Terjemah]
Manusia terbaik dari umat ini sepeninggal Nabinya -alaihissalam- adalah
Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian Umar bin Al-Khaththab, kemudian Utsman
bin ‘Affan, kemudian Ali bin Abi Thalib -radhiallahu anhum-, dan mereka
(berempat) ini adalah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan
hidayah.
Dan (termasuk sunnah) memintakan rahmat untuk semua
sahabat Muhammad -shallallahu alaihi wasallam- dan untuk seluruh
keluarga beliau. Serta menahan diri dari semua perseteruan yang terjadi
di antara mereka (para sahabat).
[Syarh]
Pada point ini,
Ibnu Abi Hatim rahimahullah ingin menjelaskan mengenai akidah yang benar
dalam menyikapi para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam secara
umum, dan para khalifah yang empat secara khusus. Bahwasanya secara
umum, seluruh para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam merupakan
manusia yang paling utama di muka bumi ini sepeninggal Nabi mereka. Dan
secara khusus, ahlussunnah menetapkan adanya perbedaan kedudukan dan
keutamaan di antara sesama sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan
yang berada pada puncaknya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian
Utsman, kemudian Ali radhiallahu anhum ajma’in.
Dalil-Dalil Tentang Keutamaan Sahabat.
Ada banyak dalil dari Al-Qur`an dan as-sunnah yang shahih, yang
menjelaskan tentang keutamaan sahabat secara umum. Di antaranya:
Allah Ta’ala berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah.” (QS. Ali Imran: 110)
Allah Ta’ala berfirman:
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman
kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka
berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu).”
(QS. Al-Baqarah: 137)
Dan ‘kalian’ dalam ayat ini adalah para
sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Allah Ta’ala telah
menjadikan keimanan mereka sebagai tolak ukur dan timbangan bagi
keimanan manusia selain mereka, baik yang hidup di saman mereka maupun
yang akan datang sepeninggal mereka. Ini menunjukkan mereka adalah
manusia yang terbaik dan yang paling sempurna keimanannya.
Allah Ta’ala berfirman:
قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ ۖ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ
شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ
وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ
الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا
عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ
”Allah berfirman:
“Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku
meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk
orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang
beriman kepada ayat-ayat Kami”. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul,
Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat
dan Injil yang ada di sisi mereka.” (QS. Al-A’raf: 156-157)
Allah Ta’ala berfirman:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى
الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا
يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي
وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ
ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ
فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ
بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Muhammad
itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.
Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan
keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat
mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya
maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan
tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang
kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara
mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)
Adapun dari as-sunnah, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abdullah bin Busr radhiallahu anhu:
طُوْبَى لِمَنْ رَآنِي وَطُوْبَى لِمَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَلِمَنْ رَأَى مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي
“Keberuntungan bagi orang yang melihatku (para sahabat), keberuntungan
bagi orang yang melihat orang yang melihatku (tabi’in), keberuntungan
bagi orang yang melihat orang yang melihat orang yang melihatku (atba’ut
tabi’in) dan beriman kepadaku”. (HR. Al-Hakim no. 7095 dan dihasankan
oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1254)
Dari Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku
(generasiku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian
orang-orang yang datang setelah mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 3378 dan
Muslim no. 4601)
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata -dan ini adalah marfu’ hukman-:
إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ
لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ
الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ
قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى
دِينِهِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ
وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ
“Sesungguhnya Allah melihat ke hati para hamba dan Dia mendapati hati
Muhammad r adalah sebaik-baik di antara hati-hati para hamba, maka Dia
pun memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya.
Kemudian Allah melihat lagi ke hati para hamba setelah hati Muhammad dan
Dia mendapati hati para sahabat adalah sebaik-baik hati para hamba,
maka Dia pun menjadikan mereka sebagai pembantu-pembantu Nabi-Nya yang
mereka itu berperang dalam agama-Nya. Maka apa-apa yang dianggap baik
oleh kaum muslimin maka hal itu baik di sisi Allah dan apa-apa yang
jelek menurut kaum muslimin maka hal itu jelek di sisi Allah”. (HR.
Ahmad: 7/453)
Imam Al-Qolsyany -rahimahullah- berkata, “As-salaf
ash-shalih, mereka adalah generasi pertama yang mendalam ilmunya, yang
mendapatkan hidayah dengan hidayah Nabi shallallahu alaihi wasallam,
yang menjaga sunnah-sunnahnya. Allah telah memilih mereka untuk
bersahabat dengan Nabi-Nya dan memilih mereka untuk menegakkan
agama-Nya.”
IV. Ahlus Sunnah Mengakui dan Menerima Keutamaan dan Kedudukan Sahabat
Keutamaan adalah apa yang dengannya seseorang mengungguli orang lain
dan ia dianggap sebagai kebanggaan baginya. Kedudukan adalah derajat,
para sahabat memiliki derajat dan kedudukan tinggi. Keutamaan dan
kedudukan yang ada bagi sahabat Nabi diterima oleh Ahlus Sunnah wal
Jamaah.
Sebagai contoh Ahlus Sunnah menerima banyaknya shalat
atau sedekah atau puasa atau haji atau jihad atau keutamaan-keutamaan
lain dari mereka. Ahlus Sunnah menerima – contohnya – keutamaan Abu
Bakar yang hadir kepada Nabi dengan seluruh hartanya pada saat Nabi
mendorong sahabat bersedekah. Ini adalah keutamaan.
Ahlus Sunnah
menerima keterangan yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah bahwa Abu
Bakarlah seorang yang menemani Rasulullah dalam hijrah di gua. Mereka
menerima sabda Nabi tentang Abu Bakar, “Sesungguhnya orang yang paling
banyak jasanya terhadapku dalam harta dan persahabatannya adalah Abu
Bakar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Begitu pula
keterangan-keterangan tentang keutamaan Umar, Usman dan Ali dan
sahabat-sahabat yang lain. Semua itu diterima oleh Ahlus Sunnah wal
Jamaah. Begitu pula dengan derajat, Ahlus Sunnah wal Jamaah menerima
keterangan tentang derajat mereka. Derajat tertinggi umat ini diraih
oleh khulafa’ rasyidin, yang tertinggi dari mereka adalah Abu Bakar
kemudian Umar kemudian Usman kemudian Ali.
V. Antara Sahabat Sebelum dan Sesudah al-Fath
Ahlus Sunnah mengunggulkan sahabat yang berinfak dan berperang sebelum
Fath, yakni perjanjian damai Hudaibiyah atas sahabat yang berinfak dan
berperang sesudahnya.
Dalilnya adalah firman Allah, “Dan mengapa
kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal
Allahlah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di
antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum
penaklukan. Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang
menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan
kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.” (Al-Hadid: 10).
Orang-orang yang berinfak dan berperang sebelum perdamaian Hudaibiyah
lebih afdhal daripada orang-orang yang berinfak dan berperang
setelahnya. Perdamaian Hudaibiyah terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun
enam hijriyah. Orang-orang yang masuk Islam berinfak dan berperang
sebelum itu adalah lebih baik daripada orang-orang yang berinfak dan
berperang sesudahnya.
VI. Keutamaan Sahabat
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman
kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110).
Abdullah bin Abbas
radhiallahu’anhu mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang berhijrah
bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekah ke Madinah.”
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Pendapat yang benar adalah ayat
ini umum mencakup seluruh umat di setiap zaman. Dan sebaik-baik mereka
adalah orang-orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus
bersama mereka (yaitu para sahabat), kemudian yang setelah mereka,
kemudian yang setelah mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 2:83)
Sahabat
Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu mengatakan sebuah kalimat yang sangat
indah, ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat
hati para hamba, maka Dia mendapati hati Muhammad shalallahu ‘alaihi wa
sallam adalah sebaik-sebaik hati para hamba-Nya, lalu Allah memilih dan
mengutusnya untuk menyampaikan syariat-Nya. Kemudian Allah Subhanahu wa
Ta’ala melihat hati para hamba setelah hati Muhammad, maka Dia mendapati
hati para sahabatnya adalah sebaik-baik hati para hamba-Nya, maka Allah
Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka para penolong nabi-Nya, memerangi
musuh untuk membela agama-Nya. Apa yang baik menurut kaum muslimin
(para sahabat) adalah baik menurut Allah, dan apa yang menurut kaum
muslimin (para sahabat) jelek maka hal itu menurut Allah adalah jelek.”
(Majmu’uz Zawaid lil Haitsumi, 1:177).
Ibnu Umar mengatakan,
“Siapa saja yang ingin meneladani (seseorang), maka teladanilah
orang-orang yang telah meninggal dunia, merekalah para sahabat Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka sebaik-baik umat ini, paling dalam
ilmunya dan paling sedikit bebannya –karena setiap ada masalah mereka
bisa langsung bertanya kepada nabi-, mereka adalah suatu kaum yang Allah
Subhanahu wa Ta’ala pilih untuk menemani nabi-Nya dan membawa
syari’at-Nya, maka teladanilah akhlak-akhlak mereka dan jalan hidup
mereka. Karena mereka para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam sungguh mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” (Hilyatul
Auliya, 1:205-206).
VII. PERINTAH MENELADANI PARA SAHABAT
Banyak sekali dalil-dalil dari Alquran maupun sunah yang memerintahkan kita untuk meneladani para sahabat, di antaranya:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى
وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang
menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan
yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa:
115).
Dan dalam hadist:
Dari Abu Burdah dari bapaknya ia
berkata: “Selepas kami shalat maghrib bersama Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam kami katakan, ‘Bagaimana bila kita tetap duduk di
masjid dan menunggu shalat isya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam.’ Maka kami pun tetap duduk, hingga keluarlah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat isya. Beliau mengatakan,
‘Kalian masih tetap di sini?’ Kami katakan, ‘Wahai Rasulullah kami telah
melakukan shalat maghrib bersamamu lalu kami katakan, alangkah baiknya
bila kami tetap duduk di sini menunggu shalat isya bersamamu.’ Maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kalian benar.’
Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepala ke
langit lalu berkata, ‘Bintang-gemintang itu adalah para penjaga langit,
apabila bintang itu lenyap maka terjadilah pada langit itu apa yang
telah dijanjikan, aku adalah penjaga para sahabatku, bila aku tiada maka
akan menimpa mereka apa yang telah dijanjikan, dan para sahabatku
adalah para penjaga umatku, apabila para sahabatku telah tiada maka akan
menimpa umatku apa yang telah dijanjikan.’”(HR. Muslim 7:183).
Al-Imam An-Nawawi mengatakan, “Makna hadis di atas adalah selama bintang
itu masih ada maka langit pun akan tetap ada, apabila bintang-bintang
itu runtuh dan bertebaran pada hari kiamat kelak maka langit pun akan
melemah dan akan terbelah dan lenyap. Dan sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, ‘Aku adalah penjaga para sahabatku, bila aku tiada
maka akan menimpa mereka apa yang telah dijanjikan’, yaitu akan terjadi
fitnah, pertempuran, perselisihan, dan pemurtadan. Dan sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Para sahabatku adalah para penjaga
umatku, apabila para sahabatku telah tiada maka akan menimpa umatku apa
yang telah dijanjikan’ (Syarh Shahih Muslim, 16:83).
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda di dalam hadits 'Irbadh bin Sariyah,
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور
Wajiblah atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah
khulafaurrasyidin yang berpetunjuk sepeninggalku,gigitlah sunnah itu
dengan gigi-gigi geraham. Hati-hatilah kalian terhadap hal-hal
baru(dalam agama)(HR Tirmidzi)
Khulafaurrasyidin adalah:Abu
Bakar,Umar,Usman dan Ali, radhiallahu anhum. Allah ta'ala pernah
menurunkan firman Nya tentang kemuliaan Abu Bakar dalam beberapa ayat Al
Quran.
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan
kelapangan diantara kalian bersumpah bahwa mereka(tidak)akan
memberi(bantuan)kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan
orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah,dan hendaklah mereka
memaafkan dan berlapang dada (An Nuur:22)
Tidak ada yang
memperselisihkan bahwa ayat tersebut berkenaan dengan Abu Bakar yang di
sifati dengan keutamaan,Allah meridhoinya.
Allah berfirman lagi,
Sedang ia adalah salah seorang di antara dua orang di dalam gua (At Taubah:40)
Bahwa ayat tersebut juga tentang Abu Bakar juga tidak ada yang
memperselisihkannya. Allah menjadi saksi atas persahabatannya dan Allah
memberikan berita gembira dengan kedamaian. Ia juga dihiasi dengan kata
Tsaniya itsnaini(satu diantara dua) sebagaimana Umar bin Khatab berkata,
siapakah yang lebih mulia daripada satu di antara dua orang sedang
Allah yang ketiganya.
Allah ta'ala berfirman,
Dan orang yang membawa kebenaran(Muhammad) dan membenarkannya,mereka itulah orang-orang yang bertakwa.(Az Zumar:33)
Imam Ja'far Ash Shadiq.rhm berkata, tidak ada yang memperselisihkan
bahwa yang datang dengan membawa kebenaran adalah Rasulullah dan yang
membenarkannya adalah Abu Bakar. Kedudukan apalagi yang lebih mulia
daripada kedudukannya? Allah telah meridhoi mereka semua.
VIII.POTRET KECINTAAN PARA SAHABAT KEPADA RASULULLAH
Seorang shahabiyah (sahabat wanita) mulia, yang bapaknya, saudaranya
dan suaminya terbunuh di Perang Uhud tatkala dikabari berita duka
tersebut justru ia malah bertanya bagaimana keadaan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dikatakan kepadanya, “Beliau
(Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) baik-baik saja seperti yang
engkau harapkan.” Dia menjawab, “Biarkan aku melihatnya.” Tatkala ia
melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dia mengatakan,
“Sungguh semua musibah terasa ringan wahai Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam kecuali bila hal itu menimpamu.” (Sirah Nabawiyyah
Libni Hisyam, 2:99).
Seorang sahabat mulia yang keluarganya
adalah Quraisy, ia ditangkap oleh Quraisy untuk dibunuh, maka berkata
Abu Sufyan berkata kepadanya, “Wahai Zaid, semoga Allah menguatkanmu,
apakah engkau senang bila Muhammad menggantikan posisimu sekarang untuk
dipenggal kepalanya sedang engkau duduk manis bersama keluargamu..?!!
Maka spontan Zaid menjawab, “Demi Allah, sungguh tidakkah aku senang
bila Muhammad sekarang tertusuk duri di tempatnya, sedang aku
bersenang-senang bersama keluargaku.” Abu Sufyan pun mengatakan, “Saya
tidak melihat seorang pun yang kecintaannya melebihi kecintaan
sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammad.” (Sirah Nabawiyyah Libni
Hisyam, 3:160).
Abu Thalhah radhiallahu’anhu pada waktu Perang
Uhud, beliau membabi buta melemparkan panah-panah ke arah musuh hingga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ada sedikit rasa iba
kepada musuh. Maka Abu Thalhah radhiallahu’anhu, “Demi bapak dan ibuku
yang jadi tebusanmu, wahai Rasulullah, jangan engkau merasa iba dengan
mereka, karena panah-panah mereka telah melukai dan menusukmu,
sesungguhnya leherku jadi tameng lehermu.” (HR. Bukhari, no.3600 dan
Muslim, no.1811).
IX.HUKUM MENCELA SAHABAT
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah
akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa
yang menghinakan.” (QS. al-Ahzab: 57).
Orang-orang yang
menyakiti para sahabat berarti mereka telah menyakiti Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan siapa saja yang menyakiti
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti telah menyakiti Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan siapa pun yang menyakiti Allah Subhanahu wa
Ta’ala maka dia adalah orang yang melakukan perbuatan dosa yang paling
besar bahkan bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jangan kalian mencela
sahabatku, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas
sebesar Gunung Uhud maka tidaklah menyamai 1 mud mereka atau
setengahnya.” (HR. Bukhari, no.3470 dan Muslim, no.2540).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Barang siapa mencela sahabatku, atasnya laknat Allah Subhanahu wa
Ta’ala, para malaikat dan manusia seluruhnya.” (HR. Thabarani dalam
Mu’jamul Kabi, 12:142 dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ahadis
Ash-Shahihah, no.2340).
Masih banyak lagi dalil-dalil yang
menunjukkan kemuliaan para sahabat dan haramnya mencela apalagi mencaci
para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan kewajiban
kita adalah memuliakan mereka karena mereka telah memuliakan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Inilah manhaj (metode) yang ditempuh
oleh ahlus sunnah wal jama’ah. Siapa saja yang menyimpang dari metode
ini berarti mereka adalah orang-orang yang tersesat dari jalan yang
benar.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Termasuk hujjah
(argumentasi) yang jelas adalah menyebut kebaikan-kebaikan para sahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruhnya, dan menahan lisan
dari membicarakan keburukan mereka dan perselisihan yang terjadi di
antara mereka. Siapa saja yang mencela para sahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam atau salah satu di antara mereka, mencacat
dan mencela mereka, membongkar aib mereka atau salah satu dari mereka
maka dia adalah mubtadi (bukanlah ahlussunnah), rafidhi (Syi’ah) yang
berpemikiran menyimpang. Mencintai para sahabat adalah sunah, mendoakan
kebaikan untuk mereka adalah amalan ketaatan, meneladani mereka adalah
perantara (ridha-Nya), mengikuti jejak mereka adalah kemuliaan. Para
sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia terbaik,
tidak dibenarkan bagi seorang pun menyebut-menyebut kejelekan mereka,
tidak pula mencacat atau mencela dan membicarakan aib salah satu di
antara mereka.” Wallahu a’lam.







0 komentar:
Posting Komentar